[Cerpen] The Source Of My Happiness

  • Whatsapp
Dok. Pribadi/Wanda Anggraeni

KEKER.FAJAR.CO.ID – Hari itu aku melewati momen yang sangat melelahkan. Tentunya di sekolah, setiap harinya aku selalu mengeluh tentang tugas yang setiap saat kukerjakan.

Aku selalu mengeluh akan satu hal yang selalu gagal kukerjakan. Padahal aku baru akan memulainya, tetapi hasilnya selalu sama aku selalu gagal di awal sebelum benar benar berusaha. Ini bukan tentang mencoba satu dua kali langsung berhasil, aku sudah mencobanya, namun lagi-lagi gagal.

Bacaan Lainnya

Mungkin tak apa menurutnya, beliau sosok yang selalu memberi senyum dan berkata “Tak apa kamu bisa mencobanya di lain waktu.”

Aku pulang ke rumah dengan perasaan letih, karena sudah lelah berjuang dengan proyek yang setiap hari aku kerjakan, tapi belum juga membuahkan keberhasilan. Saat itu aku menyalahkan diriku. “Apakah aku kurang usaha? Apakah waktuku untuk mengerjakan belum maksimal?” Tanyaku dalam hati

Hingga di sore harinya, beliau menghampiriku yang duduk termenung. Awalnya beliau menanyakan kembali tentang perasaanku, tentang apa yang aku rasakan saat ini.

“Aku sedang tidak baik-baik saja ma,” kataku.

“Istirahatlah, kumpulkan kekuatanmu untuk membuktikan kepada orang-orang itu kalau kamu bisa dan tak pantas untuk diremehkan,” sarannya.

Aku mulai mengerti. Di hari itu, untuk membuatku kembali senang Mama mengajakku pergi makan bakso, padahal hari itu cuacanya sedang turun hujan. Di tengah perbincangan kami, Mama mulai bercerita tentang bagaimana masa-masa sekolahnya dulu. Mama menceritakan banyak hal salah satunya bagaimana ia dulu selalu menunggu bus di dekat persawahan dengan teriknya matahari siang itu. Katanya, Mama melakukan itu untuk mendapat tumpang gratis bersama teman-temannya.

Mama bercerita tentang masa-masa sekolahnya dulu, tapi beliau tidak pernah sekalipun mengeluh ataupun menyalahkan keadaan. Mama mulai memberikanku nasehat “Betapa beruntungnya kamu saat ini karena mendapat fasilitas yang cukup untuk bersekolah. Mulai dari uang jajan sampai benda yang kamu pakai saat ini dulu belum sempat orang tua Mama belikan karena susahnya perekonomian saat itu,” jelasnya menasehati.

Pos terkait