[Cerpen] Pohon Mangga Kakek Bedu

  • Bagikan
Photo source : Dok. Pribadi/Abdur Rohman

Yahhh kami terus berdebat masalah mangga kakek Bedu dan saling menyalahkan. Hingga akhirnya kami mengaku bersalah dan memutuskan untuk ke pohon mangga itu.

“Maaf kakek, maaf kita mencuri mangga kakek berulang-ulang,” kataku bersama dengan Pian dan Budi.

Kami mengulangi kalimat itu berkali-kali. Beberapa saat kemudian suara aneh yang sering berguman di pikiranku datang lagi. Kami bertiga semakin ketakutan.

“Maaf kakek, maaf,” kataku ingin menangis.

Langkah kaki mendekati kami dari belakang.

“Ada apa pemuda-pemuda.”

Ketika aku berbalik, aku melihat sosok kakek Bedu, aku pun berteriak sementara Budi dan Pian jatuh pingsan.

“Saya tidak akan mencuri lagi kakek, maafkan saya, tolong jangan gentayangi saya,” mohonku ketakutan sambil bersujud.

“Gentayangi, kamu bicara apa Surya, memang saya terlihat seperti hantu?”

Ahhh, Dia bukan hantu, seketika aku legah, tapi aku masih belum percaya itu Kakek Bedu.

“Sudah sadar kalau mencuri itu hal yang tidak baik?” tanya kakek Bedu.

“I… iyya..??” jawabku.

“Hmmm, sebenarnya saya sudah tahu kamu dan teman-temanmu ini sering mengambil mangga saya tanpa izin, Jadi saya melaporkan hal ini ke Bapakmu, jadi untuk membuat kamu jera Bapakmu merencanakan untuk menakuti kamu,” jelas Kakek Bedu.

“Jadi Kakek Bedu tidak meninggal,” gumamku.

Semenjak hari itu, aku, Budi, dan Pian berhenti mencuri mangga Kakek Bedu. Aku juga sadar kalau mencuri adalah hal yang buruk.

Pohon mangga Kakek Bedu semakin lebat, setiap sore sepulang sekolah aku dan teman-teman mampir makan mangga manis Kakek Bedu dan terlihat Kakek Bedu senang, kini pemikiranku tentang kakek yang menyeramkan hilang.

Ternyata Kakek Bedu orang yang berjiwa besar, pantas Pohon mangganya lebat dengan buah yang manis. (*)

Abdur Rohman

(SMKN 4 Soppeng)

FB Abdur Rohman

  • Bagikan