[Cerpen] Misteri Cincin Emas Ibu Novi

  • Whatsapp
Photo source : Dok.Pribadi/Ali Armadan

KEKER.FAJAR.CO.ID – Cincin emas Ibu Novi hilang, seisi sekolah seakan terhantam bom.

(lapangan upacara)

Bacaan Lainnya

Pagi itu sejuk semerbak bagai hari pertama bunga sakura mekar. Kami melaksanakan upacara bendara. Seperti biasa pak botak, julukan wakil kepala sekolah kami membawakan amanat upacara yang sangat membosankan.

Aku melihat Ibu Novi menuju arah toilet ruang guru dengan tergesa-gesa. Selain itu aku menyaksikan Rehan dan Taufik berencana meninggalkan lapangan upacara.

“sssttt… Taufik. Ayo deh, bosen nih gue. Si botak juga gak tau ngomong apa,” ajak Rehan.

“Ngga ah, lebih males bareng lo,” tolak Taufik.

“Udah ayo,” Rehan menarik Taufik dan kabur.

Aku mengabaikan mereka, toh kalau kedapatan bukan saya yang salah. Tapi sebagai teman dekat mereka berdua, hati kecilku tergerak dan segera menyusul.

Aku segera mencari Taufik dan Rehan, mereka menghilang seperti hantu. Justru aku bertemu ibu Novi. Pikirku dia akan marah karena aku meninggalakan lapangan upacara, tapi karena cincin emas 24 karatnya.

“Ohhhh jadi kamu Panji, mana cincin saya?” tanya Ibu Novi geram.

“Saya tidak tahu bu,” jawabku.

“Lalu kenapa kamu bisa ada di sini, bukannya upacara masih berlangsung.

Sudah jangan alasan, kamu pasti mencuri cincin saya,” bentak Ibu Novi.

Ibu Novi segera membawa saya ke ruangan Tata Usaha dan mengumumkan untuk upacara diselesaikan segera dan memanggil Bapak wali kelasku ke ruangan kepala sekolah.

Lapangan sekolah segera menjadi ricuh, karena sang Harimau mengamuk lagi.

“Kali ini apa lagi,” ujar salah seorang guru.

“Kasihan Pak Zainuddin, dia terus yang jadi sasaran karena anak-anak walinya berantakan semua. Untung dia sabar,” ujar Rina si anak kelas unggulan.

Di ruangan kepala sekolah, Pak Zainuddin datang dengan wajahnya yang lesu.

“Pak, buat anak walimu ini mengaku. Cincin saya dicuri saat saya di toilet tadi,” ketus Ibu Novi.

“Bukan saya pak, Rehan mungkin,” ujarku gugup.

Pak Zainuddin hanya memandangiku.

“Saya bersumpah bukan saya pak, bu. Saya hanya ingin mencari Rehan dan Taufik tadi. Mereka bolos upacara,” jelasku.

“Ohhh kalian bertiga pasti sekongkol,” ketus ibu Novi.

Pak Zainuddin hanya diam dan menerima omelan ibu Novi.

(Di kantin sekolah)

“Ada apa lagi tuh si Harimau,” ujar Rehan sambil memakan nasi goreng.

“Tau ah, males gua. cepetan deh loh habisin tuh makanan,” ujar Taufik.

Rina, si murid ranking satu segera menegur Rehan dan Taufik. Rina dan aku dulunya satu smp, begitu juga dengan Rehan dan Taufik. Tak heran dia tahu banyak tentang kami.

“Kalian malah di sini, tuh Panji lagi di ruangan kepsek,” kata Rina.

Rehan dan Taufik yang asyik di kantin sekolah segera menuju ruangan kepala sekolah menyusul sahabat karibnya.

Sambil berlari, Rehan dan Taufik sudah mendengar nama mereka dipanggil.

(Ruangan Kepala Sekolah)

“Nah ini mereka, kalian bertiga pasti bersekongkol mencuri cincin saya,” kata Ibu Novi.

“Bukan kami bu, justru saya kaget Panji bisa dipanggil ke sini,” kata Rehan.

“Lagian kenapa ibu pakai cincin emas ke sekolah, sekolah bukan tempat pamer bu,” ujar Taufik kesal.

“Sudah, kalau kalian tidak segera mengembalikan cincin saya. Kalian bertiga kena skorsing selama satu minggu,” ancam ibu Novi.

Tiba-tiba pak Zainuddin bersuara.

“Maaf bu, bukannya membela murid saya, tapi langsung membuat keputusan final tanpa mengetahui kondisi sebenarnya saya rasa tidak pantas bu. Lagian kalau mereka yang mengambil, pasti cincin itu ada pada mereka sekarang, tapi buktinya tidak ada,” ujar Pak Zainuddin dengan bijak.

Aku tersentuh, kukira Pak Zainuddin tidak akan membela kami.

“Tapi hanya mereka bertiga yang tidak ada di lapangan upacara tadi saat saya ke toilet. Siapa lagi coba yang mau mengambil,” ujar Ibu novi kesal.

“Benar bukan kalian yang ambil?” tanya Pak Zainuddin sembari melihat kami bertiga.

“Sumpah bukan kami pak, saya dan Rehan tadi ke kantin, dan kami tidak bersama Panji,” ujar Taufik.

Ibu Novi masih terus menyalahkanku dengan Taufik dan Rehan, untung saja salah seorang guru datang meredahkan suasana kacau di ruangan kepala sekolah.

“Ibu kepala sekolah pasti cari cincin ini kan?” kata guru Biologi cantik sembari menunjukkan cincin emas ibu Novi.

“Loh, iya itu cincin saya. Kamu yah yang ambil, sini,” ketus Ibu kepala sekolah.

Seketika aku berpikir, kenapa orang seperti dia bisa jadi kepala sekolah.

“Tidak bu, saya menemukan cincin ini di samping cermin depan toilet. Sepertinya ibu lupa mengambilnya,” ujar guru cantik itu.

Pak Zainuddin, Rehan, Taufik dan aku hanya saling menatap dan menghelah nafas panjang. Banyak yang kupelajari dari kejadian ini, tapi yang pasti jangan suka bolos upacara. (*)

Ali Armadan MM

(SMAN 6 Soppeng)

IG @ardhan_kun

Pos terkait