[CERPEN] WOUND BEHIND THE MASK

  • Bagikan
Doc. Pribadi/Annisa Lathifah Puji Lestari

“Kakak aku boleh bertanya?” aku mengangguk.

“Kakak, punya ibu? aku dari kecil tidak pernah ketemu ibu,” kupandangi wajah polos gadis kecil itu yang sedang ada di sampingku. Aku bingung akan menjawab apa. Setelah mengingat kejadian malam itu. Kucoba menjawab sebisanya.

“Ibu itu sosok yang melahirkan kita. Dia mengandung kita selama sembilan bulan, berjuang hidup dan mati melahirkan kita ke dunia. Bangun tengah malam saat kita menangis kelaparan, menidurkan kita, memandikan kita,” aku berusaha setenang mungkin saat ingatan tentang kejadian malam itu. Kupikir setelah mati, aku akan hidup tenang dan bisa melupakan kejadian itu, tak kusangka hidupku terus semenyedihkan ini.

“Aku tau, Allah pasti menyayangi anak baik, maka dari itu aku berusaha menjadi anak yang baik. Aku selalu mencari kebahagiaanku dan pada akhirnya aku memilih membuat kebahagiaanku sendiri,” dia tersenyum manis kepadaku, senyum yang mengajarkanku banyak hal. Aku malu pada diriku sendiri, aku malu dengan Adara.

Anak sekecil itu mampu berpikir dewasa. Seharusnya aku sadar, kalau kebahagiaan tidak pernah ada dalam hidupku, kenapa bukan aku saja yang menciptakan kebahagiaanku sendiri? Tak kusangka, Anak kecil itu mengajariku banyak hal. Karena masih merasa lelah. Akhirnya aku kembali tertidur.

“Nindi! Bangun!”

Apakah aku salah dengar? Itu seperti suara ibuku.

Puk! Puk!

Aku merasakan tepukan pada pipiku, kemudian membuka mataku dan langsung melihat ibuku sedang berdiri di hadapanku.

“Ngapain tertidur di depan pintu?” ibu mengomeliku. Tunggu? Depan pintu? Tertidur? Hah? Kejadian di Panti Asuhan dan bertemu Adara tadi itu mimpi?

Aku melihat sekitar, keadaannya masih sama persis saat waktu ibu datang dan menamparku. Tapi tidak ada tali atau kursi. Entah aku harus bersyukur atau bagaimana tapi sepertinya Allah masih menyayangiku. Aku bersyukur setidaknya aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki hidupku. Tanpa sadar aku tersenyum ketika mengingat kembali pertemuanku dengan Adara meski hanya mimpi.

“Bu, aku mau minta maaf, kalau selama ini aku punya banyak salah sama ibu. Maaf karena sudah membongkar rahasia ibu tapi ibu harus tau, aku melakukan itu karena aku sudah tidak tahan harus berpura-pura tidak tau. Allah akan marah padaku kalau terus membiarkan ibu dalam kesesatan. Bukan maksud untuk sok menasehati ibu, aku hanya ingin kita bisa di surga sama-sama, karena aku tidak mau nantinya dimintai pertanggung jawaban, karena tidak menyadarkan ibu. Maaf…” aku terisak dalam pelukan ibu, tiba-tiba aku merasa getaran hebat pada tubuh ibu.Ibu menangis sekeras-kerasnya. Aku bisa merasakan kesedihan ibu.

“Maafkan ibu, kamu tidak salah. Ibu yang salah, maafkan ibu. Ibu memang bukan ibu yang baik. Maaf nak…” ibu menyesali perbuatannya, kami masih berpelukan sambil menangis, berusaha memaafkan satu sama lain.

“Sudah bu, Nindi sudah maafkan ibu. Kita hanyalah manusia biasa, tentu pernah melakukan kesalahan. Lebih baik kita melupakan semua yang telah berlalu,” ibu tersenyum haru. Aku juga ikut tersenyum.

“Mari kita hidup lebih baik,” kami kembali berpelukan. Biarlah yang lalu sudah berlalu, cukup jadikan pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tak kusangka semuanya akan berakhir bahagia seperti ini. Ingin rasanya aku bertemu lagi dengan Adara dan mengucapkan terima kasih karena telah mengajarkanku pelajaran yang sangat berarti bagi hidupku.(*)

  • Bagikan