Bohong Membawa Petaka

  • Whatsapp
Dok. Pribadi/Jacinta

KEKER.FAJAR.CO.ID – Irisku memanas, teringat akan kejadian siang tadi. Air mata tak kunjung berhenti keluar. Cengeng sekali. Beginilah nasibku menjadi anak yatim piatu yang serba kekurangan.

Wajahku yang jelek menjadikanku sering dijadikan pembantu murid-murid lainnya. Menolak? Yang ada beasiswaku bisa dicabut. Anak pemilik sekolah adalah salah satu yang sering menindasku, tentu saja beasiswa menjadi taruhannya jika aku berbuat yang tidak-tidak.

Bacaan Lainnya

“Ly, temenin kakak ke Indomaret!”

Sebuah kalimat perintah yang muncul dari depan pintu membuatku langsung mengelap muka dengan tangan. Jangan sampai kak Mila tahu, dia akan marah besar jika saja mengetahui tentang hal ini. Aku mungkin akan disuruh untuk keluar dari sekolah tersebut, dan aku tidak akan mau.

Aku berdiri dari duduk kemudian berjalan mendekati pintu. Membukanya, kudapati kak Mila yang melotot kaget. Sepertinya dia sadar mataku bengkak karena telah menangis.

“Kenapa kak?” Tanyaku pelan. Kak Mila menarikku ke dalam kamar. Aku tahu, saatnya interogasi.

Kak Mila menutup pintu. Ia berjalan mendekat lalu duduk di sampingku yang sedang dalam posisi kaku. Aku meneguk ludah saat kulihat mata kak Mila yang nampak sangat menyeramkan, dia marah besar! Kak Mila tidak pernah main-main jika sesuatu menimpa orang yang ia sayangi. Ya, tentu saja dia sayang padaku.

“Itu,”Kak Mila diam,”kenapa nangis?”Tanyanya pelan.

Aku diam.

“Bilang, siapa yang bikin kamu nangis?!”Suaranya naik tiga oktaf.

Aku langsung memutar otak dengan cepat, “Siapa juga yang pengen buat aku nangis. Tadi cuman habis nonton film Birthday. Sedih kak filmnya.”

Entah darimana ide bohongku muncul, intinya sekarang aku merasa tidak nyaman telah mengatakan hal yang tidak benar. Ah, tapi sebaiknya begini. Aku takut akan reaksinya nanti.

Kak Mila mengambil gawai milikku dengan paksa. Tidak memedulikan aku yang melarang dengan kata jangan. Entahlah apa yang ia lakukan. Namun aku melihatnya tengah menyentuh layar ponselku naik turun, seperti tengah mencari nomor kontak. Mati, aku punya satu teman.

“Selamat sore, kamu temennya July kan?”Aku pasrah, kak Mila mana bisa kudebat. Yang ada malah berakhir dengan aku yang kalah dan mengalah. Setiap terjadi pertikaian antara diriku dengannya, hasil akan tetap sama. Dia menang, aku kalah. Siklusnya akan tetap seperti itu.

Pos terkait