Berbahaya, Ini Tips Agar Kamu Gak Jadi Social Climber

  • Whatsapp
Photo by Mei Hardianti

KEKER.FAJAR.CO.ID – Hola Sobat KeKeR, tahu gak sih kalau social climber itu berbahaya dan bisa mengancam kejiwaan seseorang. Apa kamu salah satunya?

Yapss, belakangan ini social climber marak terjadi. Media sosial disebut menjadi salah satu pemicunya. Seseorang yang ingin terlihat keren, kaya, dan segalanya di media sosial. Alhasil, orang kayak gini termasuk mengidap social climber.

Bacaan Lainnya

Istilah social climber ini mengacu pada perilaku sosial terkait gaya hidup jetset. Keinginan untuk terlihat kaya, padahal aslinya untuk jajan bakso pun susah. Kondisi ini pun dianggap berbahaya untuk kejiwaan bagi pengidapnya. Segala cara dihalalkan demi terlihat kaya.

Dosen Pendidikan dan Perkembangan Anak, Fakultas Pskilogi UNM, Astiti Tenriwaru Ahmad SPsi MPsi Psikolog mengatakan penyebab adanya social climber karena ingin mendapatkan sebuah pengakuan. “Usia remaja merupakan fase proses pencarian identitas, atau dalam dunia psikologi dinamakan fase badai. Hal itu melibatkan perubahan fisik, emosi, dan sosial yang disertai tekanan. Dengan berbagai macam perubahan, secara sosial remaja memiliki rasa ingin mendapatkan pengakuan. Apalagi pengakuan dari teman-temannya,” ujarnya.

Si social climber tidak segan memaksa keluarga untuk memenuhi keinginannya agar terlihat tajir. Salah satu faktor penyebabnya bisa saja pengaruh dari media sosial. Mereka yang tidak mampu menerima kekurangan diri akan mengalami krisis identitas. Bahkan jangka panjangnya akan menjadi stres. Tentunya akan memabwa dampak buruk, baik secara emosi maupun moral

“Remaja harus mengalami sebuah proses yang panjang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Berproses itu sifatnya tidak instan. Hal demikian yang tidak dipahami oleh para social climber,” lanjut Astiti.

Tapi tenang aja guys, social climber bisa dijauhi sejak dini kok. Dosen Pendidikan dan Perkembangan Fakultas Psikologi UNM, Astiti Tenriawaru Ahmad, punya beberapa tips agar kamu gak jadi social climber. Cekidot!!!

1.Kenali Diri
Ketahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Cari tahu apa saja hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kelebihan kamu dengan cara positif.

2.Aksi
Memaksimalkan potensi yang ada dalam diri dengan tidak hanya sekadar bicara. Harus ada aksi nyata. Misalnya, aktif mencari informasi dan bertanya pada orang yang berpengalaman. Tentu saja hal positif dari orang lain yang akan kita tiru.

3.Evaluasi
Evaluasi apakah aksi yang dilakukan sudah sesuai harapan atau tidak. Jangan sampai kita memiliki ekspektasi tinggi, sehingga tidak melihat perkembangan kecil diri sendiri.

4.Apresiasi
Seorang anak tetap membutuhkan sebuah apresiasi dalam lingkungan keluarga terdekatnya. Dukungan orang tua membentuk perilaku anak sehingga ia bisa menerima dirinya. (*)

Pos terkait