[Cerpen] Senyum Bagaikan Sendu

  • Whatsapp
Photo by Amalia Septyani

KEKER.FAJAR.CO.ID – Jam dinding tua di kamarku berbunyi hingga 13 kali, siang itu tepat pukul 13.00 WIB, suara hiruk pikuk antara Ayah dan Ibu yang juga belum usai. Aku terdiam bersembunyi di sebuah lemari, mencoba menahan genangan air mata yang siap membasahi pipiku.

Aku memalingkan wajah ketika telingaku berdengung mendengar kalimat yang sangat menyakitkan. Menghela napas pelan, aku mengintip dari celah pintu lemari. Penglihatanku terpusat pada satu titik. Lagi dan lagi aku hanya bisa diam, batinku meronta seakan ingin melerai namun, aku harus melakukan apa?

Bacaan Lainnya

Suara isak tangis memenuhi seluruh ruangan. Tangisan yang pilu itu seakan berbicara, betapa marah dan kecewanya sang perempuan. Mataku terpejam menyaksikan ibuku menangis. Tidak tega melihatnya, air mataku ikut terjun bersama hatiku yang ikut terhanyut dalam kesedihan.

Selang beberapa waktu dengan langkah tergesa-gesa, lelaki tersebut menghampiri dan membuka pintu lemari lalu menarik tanganku dengan genggaman kuat hingga memukul bagian tubuhku, rasanya aku jadi pelampiasan emosi pertengkaran mereka. Tidak berhenti air mata ini jatuh, mencoba mengontrol emosi yang memberontak ingin lari keluar.

“Sakit……Ibu tolong akuuu,” aku menjerit keras karena menahan kesakitan.

Ibu berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Ayah.

“Lepas Ayah jangan sakiti anakmu, kasihan dia tidak tahu apa-apa,” ibu memelas dan memohon kepada Ayah.

Setelah Ayah melepaskan genggamannya. Aku pun berlari menuju ke kamar mandi, lalu mengunci pintu. Kemudian Ayah datang mengetuk pintu kamar mandi.

“Buka pintunya Dinda…..,” Ayah mendobrak pintu kamar mandi sebanyak 3 kali.

“buka pintunya!” Ujar Ayah kedua kali dengan nada tinggi.

“Aku tidak mau… Ayah jahat, Ayah tidak punya perasaan,” ujarku, menahan pintu dengan erat yang hampir saja terbuka.

“Ayah pergi saja dari sini! pergiii…pergiii,” ujarku lagi dengan nada yang penuh kekeselan.

“Oke, baik Ayah akan pergi dari dari sini dan tidak akan menemui kalian lagi,” ayah pun begegas merapikan pakaiannya ke dalam koper.

Lalu melangkahkan kakinya keluar rumah. Terdengar deru suara motor sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.

Tak lama kemudian Ibu datang mengetuk pintu pelan-pelan.

“Sayang buka pintunya nak, ini Ibu,” ujar Ibu dengan nada kelembutan.

“Dinda tidak akan mau buka pintu sebelum ayah pergi,” ujarku
“Dinda.

Ayah sudah tidak ada di rumah, buka pintunya ya anak cantik,” ujar Ibu dengan dengan penuh harapan supaya aku keluar dari kamar mandi.

Dua menit kemudian, aku membuka pintu tersebut lalu memeluk sang Ibu dengan air mata yang terus mengalir. Ibu pun membalas pelukanku, mengusap air mata dan mengecup keningku.

“Jangan takut yah nak, Ibu selalu ada buat Dinda,” ujar Ibu
“Iya Bu, dan Dinda juga akan selalu ada buat Ibu,” ujar ku.

Di malam hari, aku dan Ibu duduk di balkon menatap bulan dan bintang yang menghiasi langit begitu indah. Angin yang berhembus kencang dengan secangkir kopi hangat menikmati indahnya malam.Tiba-tiba datang seorang laki-laki berdiri memakai switer berwarna merah membawa sebuah lembaran surat dan memberikan kepada Ibu.

“Ini surat perceraian kita,” ujar Ayah.

“Iya,” jawab ibu yang begitu singkat.

Aku yang tadinya senang berbincang-bincang dengan Ibu, seketika langsung terpaku diam. Menatap kedua mata kelam sang ayah. Ibu mengambil surat, lalu menandatangani surat perceraian tersebut. Setelah itu Ayah pergi.

“Ibu sabar yah . Dibalik tragedi ini pasti ada hikmahnya, serahkan semua pada yang maha kuasa,” ujarku dengan senyuman tipis pada Ibu.

“Iya sayang,” ujar Ibu menatap ku dengan senyuman tak kalah lebar.

Saat itu aku masih belum mengerti, kenapa mereka bertengkar, yang kutahu mereka adalah orang tua yang saling mencintai. Kalau tidak, kenapa mereka menikah? pikirku.

Semakin lama, aku semakin menyadari, bahwa keretakan hubungan mereka berdua kerena kecemburuan Ayah kepada Ibu. Dibalik semua pertengkaran, aku ingin mereka berdamai dan saling mencintai lagi dan menyayangiku setulus hati.

Aku hanya ingin ketenangan dan kedamaian di dalam rumah. Tanpa ada keributan, aku masih berharap mereka saling cinta seperti sedia kala. Namun takdir berkata lain, Allah berkehendak diluar permintaanku. (*)

Nama : Amalia Septyani

Sekolah : SMAN 9 Makassar

Instagram :@kyutbet.ame

Pos terkait