[Cerpen] Aku Masih Belum Gagal

  • Whatsapp
Dok.Pribadi/Anggi

KEKER.FAJAR.CO.ID – Kemarin, aku mengikuti sebuah event LCN (Lomba Cerpen Nasional). Namun, sayang, aku bukan pemenangnya. Ini bukan yang pertama kali. Bahkan sudah berkali-kali. Rasanya kecewa.

Aku keluar dari gedung pertemuan setelah pengumuman pemenang lomba selesai dibacakan. Menuju sebuah perpustakaan kecil di pinggiran kota. Melepaskan kekecewaanku pada buku.

Bacaan Lainnya

Angin sepoi-sepoi pedesaan kurasakan di perpustakaan ini, suasananya begitu asri untuk isi hatiku sekarang.

Seorang lelaki yang tampak sepuluh tahun lebih tua dariku, datang menghampiri. Ia melihat wajahku yang kusut, duduk di kursi depanku. Ia adalah Kak Awan, kakak dari temanku. Seorang psikolog dan juga senang menulis.

Melihat wajahku yang kusut dan tak bercorak senyum, ia pun melontarkan pertanyaan yang dari awal seharusnya sudah kutahu bahwa ia akan menanyakannya.

“Kau sedang kecewa dengan sebuah hasil kan?,” tanyanya dengan mata tetap membaca buku.

“Mmm… tidak kok kak. Aku baik-baik saja,” jawabku.

“Kamu ini bagaimana sih, aku ini psikolog. Aku bisa menebak isi hatimu lewat bahasa tubuhmu. Kau sedang kecewa kan?”

Aku tak langsung menjawab, kututup buku kemudian menghampiri jendela dan melihat pepohonan hijau.

Namun, ia kembali bertanya dengan nada yang mengejek.

“Kau masih belum ingin menjawab pertanyaanku? Bahwa kau benar-benar sedang kecewa?”

Aku mendehem dan menarik nafas panjang-panjang, lalu menjawab pertanyaan itu dengan pelan.

“Hmm…iya kak, aku kecewa lagi.”

“Tentang hasil LCN lagi? kenapa kau tidak jujur saja? Kau malu? Seberapa hebat pun kau menyembunyikan perasaanmu, kakak akan selalu tahu. Kau selalu ke perpustakaan ini dengan berbagai raut wajah dan selalu menggambarkan isi hatimu. Aku tahu itu adik manis. Cobalah bercerita padaku.”

Kak Awan merangkul pundakku dan membawaku kembali ke kursi tadi. Aku merasa tak bisa berkata-kata, aku hanya bisa menangis dan menangis.

“Ayi, kamu harus terus mencoba! Jangan sampai kekalahan pertama kau anggap kekalahan telak. Dengar, tidak ada penulis pemula yang tulisannya langsung bisa diterima. Jika kamu gagal coba lagi. Coba deh perbanyak membaca.”

Pos terkait