[Cerpen] Tentang Kamu dan Luka

  • Whatsapp
Dok. Pribadi

Bacaan Lainnya

KEKER.FAJAR.CO.ID – Di pagi ini, hujan datang kembali, menyelusuri bumi. Membuat angin berembus kencang dan membiarkan dedaunan saling berjatuhan.

Hujan membuat kulitnya menambah rasa dingin, membuat orang-orang akan malas untuk bangun dari tidurnya. Ah, seketika iya lupa. Ini kan sudah bulan Maret. Bulan yang selalu membuat hujan kembali. Tak heran lagi kenapa kenangan selalu teringat di pikirannya setiap hujan datang.

Matcha merapatkan jaket kulit yang terpasang di tubuhnya. Sesekali gadis itu menggosok-gosok telapak tangannya. Dingin, itu yang ia rasakan setiap langit menjatuhkan airnya.

Ia menatap malas bus yang sedang ia tumpangi, jalannya sangat lambat. Apakah ia harus turun dan lebih memilih berlari dibanding harus duduk di atas kendaraan ini? Tidak mungkin, ia bisa sakit kalau ia melakukan hal itu. Tapi tidak ada cara lain untuk cepat kembali ke rumahnya.

Lantas ia berjalan ke arah pengemudi, menghiraukan tatapan sinis dari penumpang tersebut. Setelah pengemudi itu memberhentikan busnya, dengan cepat ia turun dan meninggalkan bus itu. Berlari menuju halte yang tak jauh dari posisinya.

Sesampainya ia di halte, ia meringis pelan ketika mendapati seseorang yang tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Berusaha untuk menghindari tatapan itu, tapi tak bisa. Seseorang itu selalu saja mengikuti kemana arah pandangannya. Ia mengha napas berat, sebelum kalimat keluar dari mulutnya. “Kamu kenapa daritadi ngeliatin aku terus? Apa ada yang salah sama diri aku?”

Cowok itu menggeleng pelan. Lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Sembari menatap air yang terus berjatuhan, ia tak sadar bila sedari Matcha mengeluarkan kalimat itu, Matcha memandanginya penuh intens.

Berbagai tatapan yang mendominasi wajah cowok itu. Salah satunya—tatapan lembut.

Di bawah hujan, mereka saling diam dengan pikiran masing-masing. Matcha—yang tadinya sedang memandangi cowok itu, kini tak lagi. Tatapan Matcha kembali lurus, menatap jalanan yang tampak sepi. Mungkin orang-orang sedang malas bepergian dikarenakan langit belum membawa airnya pergi.

Mereka diam membisu. Sesekali juga air hujan menciprati pakaian mereka, sehingga jarak di antara keduanya tak terhitung, lebih tepatnya semakin mendekat. Baik Matcha dan cowok itu saling merasakan dejavu. Merasa canggung dengan keadaannya yang sekarang ini.

“Cha.”

Matcha menoleh ketika namanya dipanggil. Menaikkan sebelah alisnya, memandang cowok yang bernama lengkap Latte Andromeda itu dengan tatapan bertanya.

“Kenapa?”

“Lo udah punya pacar?”

Meskipun ragu, Latte tetap mengeluarkan pertanyaannya yang disambut oleh gelak tawa dari gadis itu.

Setelah tertawa kecil, Matcha berdehem pelan lalu memalingkan wajahnya. “Mana bisa aku punya pacar. Memangnya ada yang mau sama aku?”

Latte terdiam, sedikit terhenyak dengan kalimat Matcha. Benar juga sih, siapa juga yang mau sama gadis itu, ya terkecuali dirinya. Ia mau lah sama Matcha. Yakali gadis sebaik Matcha ia sia-siain? Yang ada ia malah menyesal tidak menyukai gadis itu sedari dulu.

Tin.

Suara mobil mengalihkan pandangannya, membuat mereka terbuyar dari pikirannya. Latte tersenyum melihat mobil yang terparkir di depannya. Segera ia menarik tangan Matcha tanpa persetujuan dari gadis itu sendiri.

Ia dan Matcha duduk di belakang, sedangkan orang yang di depan mulai menjalankan mobilnya. Ia membiarkan mereka duduk berdampingan karena ia mengerti dengan perasaan tuan mudanya itu.

Selama di perjalanan, Matcha tak hentinya menggosok-gosokkan telapak tangannya ke lengannya. Walaupun ia sudah berada di dalam mobil milik Latte, tetap saja ia masih merasa kedinginan.

Hal itu tak luput dari pandangan Latte. Latte tersenyum kecil mendapati Matcha yang sedang menahan kedinginan. Ia membuka jaketnya dan mulai memasangkan jaket itu ke tubuh Matcha yang dibalas dengan tatapan bingung dari gadis itu.

“Kok? Kamu kenapa masangin jaket kamu ke aku? Kamu gak kedinginan? Kamu—“

Pos terkait