[Cerpen] Through It All

  • Bagikan

“Tapi ada satu lagi Lyn, yang harus kamu tau kalau setiap hubungan itu pasti ada tujuannya. Banyak banget tujuannya, tapi yang pasti terjadi cuma dua, antara putus dan nikah. Kamu juga pasti tau, di umur yang kayak kita gini udah gak pantes main-main sama suatu hubungan. We are not a kids who really like to play a long time that we have, right?

Aku pacarin kamu, pasti ada tujuan, dan kamu tau tujuan aku gak pernah ke arah yang buruk. Dari awal, aku pilih kamu dan percaya kamu buat bisa di sisi aku terus, tapi kayaknya, kamu gak mikir begitu, ya? Haha.”

No. Please no, Nan. That’s not the point ….

Waktu itu, aku dan Ganen resmi berpisah, setelah 5 tahun berjuang bersama, kami pun akhirnya menyerah dengan keadaan. Semoga bagi para pembaca yang sedang mengalami hal ini, tolong jangan berkenti, ya. Cukup aku dan Ganen saja yang menyerahkan diri, kalian tidak boleh.


Kebahagiaan sederhana yang selalu ku syukuri setiap hari adalah di waktu penghunjung hari saat pulang dari kantor. Ditemani dengan semburat langit yang kemerahan juga matahari yang turun perlahan sebab perannya akan terganti oleh bulan.Dengan cepat aku segera masuk ke dalam lift yang akan membawaku menuju basement tempat parkiran berada. Beberapa menit kemudian pintu lift di hadapanku terbuka dan hal yang kuinginkan saat ini adalah kembali ke meja kerja. Aku ingin lembur sampai pagi buta.

“Baru pulang?” pertanyaan itu tiba-tiba datang dari laki-laki yang berada tepat di hadapanku. Berdiri tegap selagi menatapku dengan tatapan sendunya.Aku hanya bisa mematung setelah secepat mungkin mengalihkan pandangan dan tidak menyadari pintu lift kembali ingin tertutup. Sebelum aku bisa menekan tombol terbuka aku melihat badannya yang dengan sergap menghalangi pintu lift kemudian tangannya menarikku keluar dengan cepat.

“Jangan suka melamun makanya.”

“Maaf, aku duluan.” dengan cepat aku segera memutar badan berusaha pergi tanpa ingin berlama-lama menghadapi dirinya. Sebelum dapat maju selangkah, tiba-tiba saja seseorang menghalangiku. Iya, laki-laki itu lagi.

Tidak banyak yang bisa kulakukan saat ini dan aku memilih untuk memperhatian wajahnya. Hal selanjutnya yang bisa aku lihat adalah muka laki-laki itu yang terlihat semakin tirus, bahkan rahangnya terukir jelas.

“Aku tau kamu gak akan datang, tapi tolong terima undangannya.” mataku menangkap benda tipis yang keluar dari dalam jasnya. Cukup lama aku menatap lekat amplop putih tersebut sebelum mengambil dan menyimpannya ke dalam tas.

“Congrats Genandra, aku bakal datang.”Butuh nyali besar juga bodoh luar biasa bagiku untuk mampu mengungkapkan kalimat barusan.Entah sampai kapan kakiku masih enggan melangkah maju, selain karena terhalang oleh Genandra, juga terhalang pikiran kalutku sedari tadi dan sesak di dadaku yang tiba-tiba datang semenit yang lalu rasanya betah berlama-lama.

Genandra mulai mengambil satu langkah lebih dekat ke arahku. Celaka, sejak kapan aku hapal kembali dengan wangi maskulinnya yang begitu memabukkan ini.

Genandra Nathaniel, parfum Tom Ford kamu ini buat aku jadi susah fokus.“Masih punya pikiran yang sama kayak setahun yang lalu?”“Tentang?”“Tentang belum mau menikah,” pertanyaan Genan membuatku mengangguk perlahan selagi menghembuskan napas kasar.Hati dia terbuat dari apa sampai tega menanyakan aku hal ini setelah tadi memberiku undangan pernikahan. Brengsek.

Pertengkaran satu tahun yang lalu kembali terlintas di pikiranku. Ada sesuatu yang rasanya tidak bisa lagi aku tahan dan entah dari mana laki-laki ini seakan mengerti. Hal berikutnya yang aku sadari adalah lengannya yang melingkar sempurna di punggungku, juga, telapak tangannya yang mengusap lembut kepalaku.

“Maaf, kemeja kamu jadi basah,” bahkan aku sangat benci dengan suara serak yang keluar begitu saja dari mulutku ini.

Ini mungkin terdengan konyol. Tapi aku masih ingin berlama-lama atau kalau bisa aku ingin waktu berhenti saat ini juga, cukup sampai air mataku terkuras habis atau sampai aku kembali yakin kalau keputusan untuk menyudahi semuanya setahun yang lalu masih tepat sampai detik ini.

“Itu undangan pernikahan Kak Johnny, bukan punya aku,” tubuhku menegang seketika. “Kamu pikir ngelupain semua tentang kita bisa secepat itu?”Seharusnya aku senang dengan kalimat barusan tapi sekarang sesakku makin menjadi, air mataku tidak berhenti mengalir dan pelukannya terasa semakin erat. Aku semakin membenci ini semua. Aku semakin membenci dengan keraguan yang semakin tumbuh.“Aku mau pulang,” ucapku pelan dan Genan segera melepaskan pelukan eratnya dengan begitu saja.Perasaan kecewa yang entah dari mana ini tiba-tiba hadir.

Aku sebenarnya kenapa?

“Aku bakal tunggu,” langkah kakiku terhenti mendengar seruannya dari balik pundak.“Iya, aku bakal datang.”

“Aku bakal tungguin kamu. Aku bakal tungguin sampai hati dan pikiran kamu udah bisa nerima aku lagi, kapanpun itu. Aku gak butuh kita menikah, aku gak butuh itu semua. I just need you.”

“Genan ….”

“When I’m on my darkest days, when I’m at my worst, even when I’m start to losing my faith again. I just need you by my side. And when all of this no longer feels new and suprising. I still believe that we can through it all.” (*)

Dea Adelia PutriMAN 2 Kota MakassarIg : @d.adeeel_

  • Bagikan

Exit mobile version