CERPEN HUJAN DI BULAN JULI

  • Bagikan

KEKER.FAJAR.CO.ID – Bulan Juli di Bandung akan menjadi bulan yang lebih dingin dari biasanya, hujan terus mengguyur kota siang dan malam. Hujan, dingin, dan  malam merupakan sebuah perpaduan yang apik untuk merelaksasikan diri dengan hanya bermalas-malasan di kamar.

Ya, itulah yang tengah dilakukan Hanum saat ini, ia menenggalamkan tubuhnya di bawah selimut merah mudanya seraya menikmati penampilan boyband Korea favoritnya, sesekali ia bernyanyi mengikuti alunan musik yang di dengarnya.

“Hanum, besok saya akan ke luar kota, jaga rumah, jangan main terus kerjaan kamu, dan jangan bikin masalah.”

Sebuah suara membuyarkan fokus Hanum, seorang wanita paruh baya membuka pintu kamarnya tanpa permisi. Hanum hanya bergumam menanggapi penuturan wanita itu.

Ia melepaskan headset yang sedari tadi terpasang di telinganya dan melemparkannya dengan kasar. Sebenarnya kata-kata itu sudah biasa Hanum dengar, tetapi entah mengapa ia masih belum terbiasa.

Dada Hanum tiba-tiba terasa sesak, ia ingin sekali berteriak. “Jangan main terus, jangan bikin masalah.” kata-kata itu terus berkeliaran di kepalanya, apakah cuma itu yang bisa diucapkan mamanya ketika dia hendak pergi lagi.

Ya, pergi lagi, Hanum selalu merasa di rumah ini hanya selalu ada dirinya, wanita yang selalu ia panggil dengan sebutan mama itu selalu pergi karena dia gila kerja, begitupun dengan papanya yang sangat jarang sekali ada di rumah.

Tanpa sadar, air mata sudah jatuh membasahi pipi Hanum. Sepi dan kosong, itulah yang Hanum rasakan saat ini, ia memiliki orang tua yang lengkap, tetapi keduanya telah kehilangan peran. Sudah lama tidak pernah berbagi cerita dan yang mereka tahu Hanum selalu bahagia padahal tidak begitu adanya.

Kehidupan Hanum berubah 180 derajat ketika ia kehilangan adik satu-satunya pada 3 tahun yang lalu. Dulu, keluarganya sangat hangat dan harmonis, begitupun dengan Hanum yang merupakan seorang pribadi yang ceria pada saat itu.

Namun, semua berubah ketika peristiwa yang membuatnya kehilangan adiknya, Hanum berubah menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Semua teman-temannya mulai menjauhinya, kecuali satu orang, Vano namanya.

Dia merupakan sahabat Hanum sejak kecil hingga ia menduduki bangku SMA saat ini. Hanum meraih handphone-nya dan mencari kontak Vano di sana.

“Coba hubungi beberapa saat lagi, karena nomor yang anda hubungi sedang sibuk.”

Hanum mencoba menghubungi Vano untuk kesekian kalinya, tetapi hanya suara operator yang didengarnya. Menghubungi Vano di saat pikirannya sedang kalut seperti saat ini sudah menjadi kebiasaan bagi Hanum, tetapi kali ini ia kecewa, Vano tidak bisa dihubungi untuk pertama kalinya, dan ia            benar-benar sendiri.

Kemudian Hanum kembali menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut seraya menepis air matanya yang terus saja mengalir. Hanum mencoba memejamkan matanya dan berharap ia bisa tertidur agar dapat melupakan semua masalahnya walau hanya sejenak.

Di saat ia hampir masuk ke alam bawah sadarnya, suara handphone menarik kesadarannya kembali, ada sebuah pesan yang masuk dan itu dari sahabatnya, Vano.

“Num jangan ganggu aku dulu.”

Deg.

Hanum langsung tertampar untuk kedua kalinya malam ini, sebuah pesan yang dikirimkan Vano membuatnya terpaku, begitu mengganggunya kah dirinya? Bukan itu kata- kata yang Hanum harapkan, ia hanya ingin ditanya kenapa, ada apa, dan bagaimana.

Hanum melemparkan sembarangan handphone-nya ke lantai tanpa berpikir bahwa benda itu akan rusak. Malam ini hujan semakin deras, seolah Bandung ikut menangis bersama Hanum.

Pagi mulai menyapa, padahal baru sejenak rasanya Hanum memejamkan matanya. Ia bangun dari kasurnya dengan mata yang sudah sembab dan kepala yang terasa pusing karena telah menangis semalam.

Pagi ini ia harus kembali mengahadapi rutinitasnya, yaitu sekolah. Ia harus tetap sekolah sekalipun tidak ada yang istimewa di tempat itu. Hanum menjalani kehidupan sekolahnya seperti biasa, membosankan dan kesepian.

Di sekolah ia tidak berbicara dengan siapapun karena tidak ada yang mengajaknya bicara, kecuali Vano. Namun, hari ini Hanum sama sekali tidak melihat Vano di sekolah, dan ia pun tidak ada niat untuk bertanya kepada Vano karena masih kecewa dengan pesan yang dikirimkan Vano malam tadi padanya.

Hari terus berlalu, hari kemarin, hari ini, dan besok sama saja bagi Hanum tidak ada yang istimewa, ia merasa begitu hampa. Sudah hampir 2 minggu ia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya, begitupun dengan Vano.

Sesekali Hanum melihat Vano di sekolah, tetapi ia urungkan untuk menyapa karena Hanum mau Vano yang menyapanya terlebih dahulu dan meminta maat atas apa yang diucapkannya pada Hanum lewat pesan malam itu.

Hanum sangat kecewa pada Vano, dia berubah, ternyata semua orang sama aja, pikir Hanum. Semua akan pergi perlahan-lahan meninggalkannya, hingga akhirnya ia hanya akan bisa berbicara dengan dirinya sendiri.

Siang ini Hanum melangkah lesu menuju rumahnya selepas pulang sekolah, tiba-tiba ada sebuah suara yang menghentikan langkahnya. Seorang cowok yang memakai seragam SMA memanggil namanya. Vano, cowok yang beberapa hari ini mengisi pikirannya tiba- tiba muncul dihadapannya.

Cowok itu berjalan menghampiri Hanum yang hanya bisa bergeming. “Hanum, aku mau cerita.”

Itulah kalimat pertama yang diucapkan Vano ketika berada di hadapan Hanum.

Hanum tertawa kecil. “Lucu ya. Setelah terakhir kali kamu bilang nggak mau diganggu dan nggak ada disaat aku butuh, terus sekarang kamu muncul dan bilang mau cerita. Memang kita masih temenan ya?” Hanum berucap dengan mimik kecewanya.

“Num, akhir-akhir ini aku lagi banyak masalah.”

  • Bagikan

Exit mobile version