[CERPEN] BERSYUKUR?

  • Whatsapp
Ilustrasi by keKeR Fajar

KEKER.FAJAR.CO.ID – Usiaku 19 tahun sekarang, hanya menunggu dua bulan untuk menuju kehidupan yang lebih dewasa. Dewasa? Tidak! Kenapa aku harus menjalani fase itu?

Setiap detik yang kulalui, bangun pagi, kadang kesiangan, cuci muka dan sikat gigi, tapi malas-malasan. Memasak sarapan dan menyeduh secangkir kopi, padahal nggak niat.

Bacaan Lainnya

Setiap malam yang kutemui aku selalu berdoa agar di pagi harinya aku bisa menjadi manusia yang lebih produktif. Dan benar, ketika pagi itu datang, aku hanya hidup sebagai seorang mahasiswi dengan setumpuk tugas kuliah yang tak kunjung kuselesaikan.

Baik, setelah melakukan rutinitas konyol ini, mari kita mulai kuliah online hari ini.“Kapan selesai kuliahnya?” Tanya mama saat melihat aku sibuk mengkuti kuliah online“Setengah jam lagi mak,” jawabku kemudian. “Sudah selesaikah?” Tanya mama kemudian“Iya mak?”“Kalo gitu bantu mamak dulu angkat gabah sini, sebentar lagi hujan ini,” sambungnya.

Mamaku sudah tua, 56 tahun, seorang ibu rumah tangga sekaligus kepala keluarga, jangan tanya bapakku di mana? Pikir sendirilah, aku tak sanggup membicarakannya.

Setiap hari mamaku ke sawah dan berkebun, tidak begitu luas, tapi sudah lebih dari cukup untuk makan kami. Saudaraku ada lima, sudah bekerja semuanya. Tidak ada yang menjadi PNS ataupun pegawai kantoran, semua bekerja sebagai seorang wiraswasta. Tidak ada yang perlu kukeluhkan mengenai kebutuhan untuk menyambung hidup, tapi tahulah, hidup tidak akan terasa hidup jika kita tidak punya gaya hidup.


“Kau sudah makan?”“Belum mak!”“Tunggu yah mamak masakkan”“Eeh tidak usah mak, Lindi mau masak indomie saja”.

Mamak yang sudah tua renta dan baik hati, keluarga yang berkucupan, aku bisa jalan-jalan kemal, makan di restoran, belanja online, dan tiduran. Suatu hari seorang teman pernah berkata padaku“Kau sudah beruntung sekali, tidak ada yang perlu kau keluhkan semuanya sudah cukup, aku , uang untukbeli paket data saja harus ngirit, uang kost masih susah, tiap hari aku cuma bisa masak di kostan.”

Hmm iya juga, tapi aku tidak pernah bisa bersyukur. Setiap jalan yang kulalui, selalu terlintas di pikiranku. “Haruskah aku hidup? Haruskah aku di sini? Pantaskah aku memakai baju ini? Sepatu ini? Sampai pada titik di mana pikiranku terus bertengkar dengan hatiku. Hidupmu sudah cukup jangan minta lebih. Tidak, aku tidak bisa besyukur.

Pos terkait