Cerpen Badai Pasti Berlalu

  • Bagikan

“Kamu lihat di sana?” Ayah menunjuk kearah sebuah rumah kecil, di sana terlihat beberapa orang anak yang sedang memakai masker sambil memegang sebuah buku dan belajar bersama sama. Mereka duduk di lantai dengan beralaskan koran bekas dan juga dus. “Meskipun mereka serba kekurangan tapi lihat, mereka bisa bahagia dan tetap semangat buat belajar walaupun di masa-masa sulit seperti ini.” Ujar ayah.Aku melihat ke arah mereka dengan cara saksama, melihat raut bahagia mereka meski tertutupi oleh masker dan melihat perjuangan mereka demi mencerdaskan diri mereka sendiri sukses membuatku malu. Malu pada diriku yang kurang bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadaku.

“Mulai sekarang kamu nggak boleh mengeluh lagi ya, Harus semangat, harus rajin belajar juga. Ayah mau lihat kamu pakai jas dokter nanti.” Ayah tertawa di akhir kalimatnya, aku pun tersenyum lebar. Ayah memang pintar membalikkan suasana menjadi lebih baik. “Ayah Terima kasih.” Ucap ku tulus.


Pagi ini dengan semangat aku telah siap duduk di depan layar gawaiku, membuka Aplikasi Chat untuk mengetahui semua kabar tentang teman-temanku dan tentang tugas-tugas yang akan diberikan oleh guru.

Namun, seketika aku terdiam, semangatku tiba tiba patah kala melihat pesan yang terkirim dari wali kelasku. “Innalillahi roji’un, turut berduka cita atas meninggalnya teman\saudara kita. Naura Saskia siswi SMA Teladan. Semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah Subhanahu wa ta’ala dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan ketabahan. Mari kita doakan sama-sama ya.”

Air mataku terjatuh dengan sendirinya. Satu lagi orang tersayang telah pergi meninggalkan diriku. Saskia adalah temanku. Teman yang selalu ada untukku dan sekarang ia juga telah pergi meninggalkanku. “Ayah hikksss…” Ucap ku histeris. Ayah yang sedang berada di dapur langsung datang menghampiriku di ruang keluarga dengan panik.“Ayah Saskia pergi ayah hikss.” Ayah langsung memelukku. Pelukan ayah begitu hangat terasa sedikit menenagkan kekacauan dalam hatiku.Lalu dengan tangisku yang begitu keras tiba tiba sebuah pesan masuk. Aku ingin menghiraukan namun notifikasi gawaiku terus saja berbunyi mengusik pikiranku.Ku lepaskan pelukan dari Ayahku lalu membuka pesan tersebut.“Hai ini Aku Ardan, Kakaknya Saskia. Ini Kaila kan? Teman dekatnya Saskia?”“Iya kak ini aku. Kaila.”“Saskia sering cerita tentang kamu, kurasa dia sangat menyukaimu. Oh iya sebelum dia pergi dia sempat nitip video ke aku katanya ingin dikirim kan ke kamu. Boleh aku kirim?”Dengan satu tarikan napas akupun mulai membalas pesan tersebut.“Boleh kak.” Ucap ku lalu sebuah video pun terkirim.Aku memutar video tersebut. Di dalamnya terdapat Saskia yang sedang tersenyum di depan kamera dengan wajah pucat pasinya. “Hai Kaila ini aku Saskia hihi. Akhir-akhir ini aku perhatikan nilai kamu menurun. Ada apa? Kamu baik baik aja kan? Oh iya sebelumnya aku turut berduka cita atas tante Ridha ya. Kamu harus tetap semangat! Masih ingat nggak, dulu waktu aku patah semangat kamu selalu nyemangatin aku. Makanya sekarang gantian aku yang nyemangatin kamu ya hihi.” Ucap Saskia di dalam video, bisa aku dengar suara napasnya terdengar memburu, dia kesulitan bernapas. Aku menangis lagi, melihat Saskia yang tersenyum seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa membuatku bersedih hati. Apakah sesakit itu?Ayah menatapku prihatin, dia juga turut merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini.“Oh iya, aku boleh minta sesuatu sama kamu nggak? Tolong wajudin impian aku ya. Aku nggak bisa ngelanjutin lomba perwakilan sekolah kita karena aku sakit. Boleh nggak kalau kamu yang gantiin? Kamu pintar kok bahkan lebih pintar dari aku.Hanya itu harapan aku. Oh iya, udah dulu ya, aku mau minum obat. Dadah Kaila sampai bertemu nanti. SEMANGAT!”


Beberapa hari kemudian setelah aku mengikuti lomba Fisika, aku duduk termenung dengan perasaan kalang kabut menunggu hasil juara lomba di depan layar laptopku. Sejujurnya aku sendiri tidak yakin jika aku akan mendapatkan juara namun karena rasa penasaran yang tinggi serta harapan untuk menang membuat ku tetap duduk dan menunggu hasil dari para juri.Hingga, hasilnya pun keluar, Aku membulatkan kedua mataku saat mendapatkan nama ku berada di urutan kedua. Yah Aku mendapatkan peringkat kedua.“Ayah…. Aku Juara dua!” Seru ku senang. Lalu ayah pun berlari kearah ku dan melihat layar laptop. Senyum lebarnya terukir jelas di wajahnya. Ayah sangat senang. “Ayah bangga sama kamu nak. Anak ayah memang pintar. Teruskan ya.” Ucap ayah dengan bangganya.“Tapi maaf ayah aku nggak bisa dapetin juara satu.”“Dapat juara dua juga udah harus di syukuri sayang. Ayah benar benar bangga sama kamu. Selama ini kamu benar benar sudah berusaha dan ayah sangat menghargai itu. Tidak perlu mendapatkan peringkat pertama yang terpenting adalah usaha.” Ucap Ayah.Aku tersenyum sangat lebar. Kata kata ayah memang benar. Dan juara ini aku persembahkan kepada Saskia dan ibu yang berada di sana serta kepada ayah yang selalu ada di sampingku dan selalu membutku mengerti tentang arti sebuah kehidupan. Badai memang pasti akan berlalu dan kali ini aku tidak akan pernah membuat diriku patah semangat. (*)

Benaya Adelyn RandalembangSMA AngkasaIG: @benaya_139

  • Bagikan

Exit mobile version