[Cerpen] My Sweetest Coffee

  • Bagikan

KEKER.FAJAR.CO.ID – Perempuan itu kini bangun dengan rambut hitam kecokelatan yang berantakan. Masih lengkap dengan seragam sekolah yang belum diganti. Ia menguap sambil meraba-raba tempat tidurnya. Mencari sebuah barang yang baginya cukup penting dicek setiap pagi. Kedua bola mata yang berwarna dark brown itu menatap layar smartphone yang menampilkan deretan pesan dari seseorang yang bernama “March”.

Ia pun bangun lalu bersiap-siap untuk bertemu teman-temannya di kafetaria. Tempat melaksanakan kerja kelompok. Perempuan yang bernama Nadine Lucky Caliya atau akrab dipanggil Nadine itu, kini sudah siap dengan rok hitam dengan panjang selutut dan baju kaos putih yang ditutupi dengan jaket jeans. Ia sekarang tengah menunggu datangnya jemputan dari sahabatnya.

“Lama banget sih,” sahut Nadine lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Kedua sahabatnya, Letta dan Yura hanya diam menanggapi sikap Nadine kali ini dengan wajar.

“Nad, lo gak apa-apa kan?,” tanya Letta yang melirik Nadine dari kaca yang tergantung di atas dashboard mobil.

“I’m trying…,” jawab Nadine.


Di Kafe Espresso Cafetaria.

Nadine masih sibuk dengan daftar menu yang ada di hadapannya.

“Kopi aja Nad. supaya ngerjain tugasnya gak ngantuk,” ucap salah satu teman Nadine yang bernama Gio.

Karena pikirannya yang sudah tidak fokus, ia hanya mengangguk dan menyerahkan buku menu itu. Menganggap pilihan menunya sudah ada.


Nadine mengambil pesanannya dan melirik cup itu yang terdapat kertas karton cokelat muda yang mengelilingi cup dengan tulisan “write something”.

Lama kelamaan Nadine merasa sesuatu yang buruk di lidahnya. Ia merasakan rasa pahit tiap kali menyeruput kopi ini. Ia pun berhenti meminum kopi itu dan kembali memperhatikan cup kopinya. Ia kini mulai menuliskan sesuatu di kertas karton itu, “bitter coffee for a bitter story”.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Mereka semua merasa lelah dan ngantuk, begitu juga dengan Nadine yang memang sedari tadi kurang bersemangat.

“Kita duluan yah,” ucap Gio disusul beberapa teman di belakangnya yang ikut pamit.

Bersamaan dengan itu, Nadine, Letta dan Yura juga berdiri. Mereka semua hendak keluar dari kafe ini bersama-sama. Sambil membawa kopi di tangannya yang tidak habis dikarenakan rasanya yang pahit, Nadine berjalan bersama teman-temannya menuju pintu keluar. Tiba-tiba, BRAAKK!

Nadine hanya terdiam melirik rok dan sepatu ketsnya yang tadinya berwarna putih bersih, kini telah menjelma menjadi warna cokelat akibat kopi yang tumpah itu. Nadine memejamkan matanya, berusaha meredam emosi yang sedari tadi pagi tidak ia luapkan.

Ia menatap orang yang menabraknya yang ternyata pelayan di kafe ini. Terlihat dari baju yang ia kenakan dan celemek yang terikat di pinggangnya. Nadine menghela napas kasar.

“Sorry… sorry. Maaf, saya tidak sengaja,” ucap lelaki itu kini berlutut berusaha membersihkan sepatu Nadine.

Melihat kejadian yang ada di hadapannya sambil melihat ke sekelilingnya, Nadine menjadi salah tingkah dan mundur selangkah membuat lelaki yang hendak membersihkan sepatu Nadine itu menatapnya.

“Gak apa-apa! Lain kali, hati-hati!,” ucap Nadine menatap tajam ke arah lelaki yang kini sudah berdiri itu. Mata hitam pekat dan alis tebal dari lelaki itu melihat Nadine yang sangat ingin marah namun, entah kenapa Nadine malah mengurungkan niatnya.


Beberapa hari berlalu, Nadine kali ini berada di kafe itu lagi di saat jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Ia kali ini duduk di sudut kafe yang berada di rooftop tanpa pesanan apa pun. Hari ini mungkin puncak dari kepahitan yang selama ini ia rasakan. Akhirnya ia bisa bebas dari March dan berani mengatakan kata putus lebih dahulu. Ia menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya. Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian yang menimpanya tempo hari di kafe ini.

Ternyata, lelaki yang menabraknya waktu itu adalah teman sekolahnya yang tidak cukup populer bagi Nadine. Tetapi menurut Nadine lelaki yang ia lupa namanya itu tampan dan juga manis. Tiba-tiba suara cup yang diletakkan di atas mejanya membuat Nadine mendongak dan mendapati sebuah cup kopi yang bertuliskan “then, make your own sweet story”.

Dari balik cup itu ia dapati wajah yang tersenyum lebar sedang menatapnya. Nadine kini duduk dengan tegap, mendapati lelaki itu berada di hadapannya.

“Masih kenal aku?,” sahut lelaki itu. “Minum kopinya. Mumpung masih hangat.”

Nadine menggelengkan kepalanya dengan lambat.

  • Bagikan