[Cerpen] Teruntuk Paling yang Tidak Menjadi Saling

  • Bagikan
Dok. Pribadi/Ririn Anugrah Wahyuli

“Sungguh indah ciptaanmu Tuhan,” gumam Dinda.

“Masya Allah, ganteng sekali dia,” ucap Lintang dalam hati.

“Halo, saya bertanya kepada kalian,” kata Gibran lagi.

“Kami anggota baru di ekskul fotografi. Kalau kamu siapa?,” tanya Dinda.

“Saya Gibran wakil ketua di ekskul fotografi,” jawab Gibran.

“Oh, maaf kak. Kami tidak tahu,” ucap Lintang.


Di luar ekskul, Gibran lebih dekat dengan Dinda. Itu karena dia tidak mau mengganggu Lintang yang sudah punya pacar.

Hingga suatu hari Gibran dan Dinda pergi ke sebuah tempat favoritnya.

“Tempatnya indah dan nyaman,” kata Gibran.

“Iya kak, ini tempat kalau saya sedang sedih atau banyak masalah,” jawab dinda.

“Kita bisa mulai memotret. Di sini tempatnya bagus,” ajak Gibran.

Sesekali Gibran memotret Dinda yang sedang duduk dan menikmati udara segar.

Semakin hari Gibran dan Dinda semakin akrab. Bahkan banyak yang mengira mereka pacaran. Namun Gibran belum menyatakan cintanya pada Dinda. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Setelah beberapa bulan kemudian, Gibran menghilang. Di sekolah, di rumah, Dinda tak kunjung menemukan sosok Gibran. Kini ia tidak lagi bersemangat.

“Da, kamu kenapa melamun terus? Sudah beberapa hari kamu begini,” tanya Lintang.

Dinda hanya diam dan melamun. Sesekali ada butiran-butiran kecil yang membasahi pipi dinda.

Setahun berlalu, tetapi kabar Gibran tak kunjung datang. Mungkin ia sadar bahwa Gibran bukan ditakdirkan bersamanya.

“Teruntuk paling yang tidak menjadi saling, biarkan rasa ini kusimpan dalam hati terkecil. Hingga saatnya tiba untuk hati ini kembali menemukan tuan dari hati ini. Tak usah hiraukan saya, tak apa-apa. Saya hanya ingin kamu bahagia,” tulis Dinda di secarik kertas. (*)

Ririn Anugrah Wahyuli(SMAN Khusus Jeneponto)IG @ririnangrhwhyli

  • Bagikan

Exit mobile version