[Cerpen] Hujan Bulan Juni

  • Whatsapp
Dok.Pribadi/Nurul Fahmi

KEKER.FAJAR.CO.ID – Sore ini, Senja kembali ingat bagaimana semesta mempertemukannya dengan Fajar tiga tahun yang lalu. Hari itu Sabtu sore di bulan Juni.

Senja baru saja menyelesaikan les pianonya. Bagi seorang ekstrovert seperti Senja, menunggu sendirian terasa seperti berada di ruang hampa. Senja benci akan hal itu.

Bacaan Lainnya

Lima menit Senja menunggu di halte bus, hujan datang. Padahal bulan Juni, bisa-bisanya hujan turun membasahi bumi sedemikian derasnya. Senja merasa semakin kesal saja.

Lima menit kembali berlalu. Ibu Senja tak kunjung datang. Wajah kusut Senja seketika berubah tatkala melihat seorang lelaki berlari dan kemudian berteduh di sebelahnya. Lelaki itu menatap hujan, kemudian mengeluarkan suara, “Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya, kepada pohon berbunga itu.”

Senja terkejut. Lelaki itu berpuisi. Ia melafalkan bait puisi Hujan Bulan Juni ciptaan Sapardi Djoko Damono.

“Keren. Oh iya, Aku Senja,” ucap Senja seraya mengulurkan tangannya.”Aku Fajar,” balas lelaki itu.”Ternyata senja dan fajar dapat bertemu, ya?” ujar Senja.Fajar tertawa pelan. “Berterima kasihlah kepada hujan bulan Juni. Ia begitu arif sehingga memberi kita kesempatan untuk berjumpa.”

Tanpa sadar, Senja tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Lamunannya terhenti ketika Fajar menepuk pundaknya pelan.”Eh, iya? Kenapa tadi?” tanya Senja.Fajar mengembuskan napas. “Kamu gak dengerin, ya?” Senja menggeleng.”Aku dapat beasiswa ke Jepang.”Satu kalimat itu berhasil membuat Senja sadar sepenuhnya.”Kapan kamu berangkat?””Minggu depan. Aku bakal ngambil sekolah bahasa dulu. Abis itu baru mulai kuliah,” jelas Fajar.Minggu depan. Artinya Fajar akan pergi di bulan Juni. Dada Senja terasa amat sakit membayangkan dirinya dan Fajar akan berpisah.”Kamu antar sampai bandara, ya?”Senja tak dapat menolak. Ia hanya mengangguk dan berusaha memperlihatkan senyumannya.

Sehari, dua hari, hingga akhirnya tujuh hari berlalu sejak pertemuan Senja dan Fajar di kafe hari itu. Senja sudah mempersiapkan segalanya. Tampilannya sudah cantik, hadiah untuk Fajar sudah dibawa, tinggal persiapan batin mengucap salam perpisahan dengan Fajar.

Pos terkait