Cerpen ‘Sadar’ Tentang Sebuah Persahabatan dan Rindu

  • Bagikan

Sadar

Rambut indah, wajah yang nyaris sempurna, serta keperibadian yang baik sangatlah jarang untuk dimiliki oleh seseorang. Namun apakah dengan semua kesempurnaan itu maka hidupnya akan menjadi tenang? Apakah tidak ada masalah yang sama sekali menggangunya? Ah aku tidak tahu itu.

Sahabatku sangatlah sempurna, begitupula kehidupannya entahlah itu yang terlintas di pikiranku setiap melihatnya. Hari itu ialah hari yang cerah seperti biasa, aku berjalan ke sekolah bersama sahabatku, tidak ada yang aneh sejauh ini, tapi ketika aku melihat raut wajahnya entah mengapa ada sedikit perasaan yang tidak menyenangkan di hatiku.

Apakah ia sedang sakit? Letih? Ataukah ada sesuatu yang sangat mengganggunya? Aku tidak sempat bertanya kepadanya namun dapat aku pastikan pasti ada sesuatu yang sedang tidak baik baik saja hari ini. Sesampai di sekolah aku berjalan bersamanya hingga masuk ke kelas dan duduk di bangku ku sendiri, akupun dengan inisiatif mengajaknya untuk bercerita namun mengapa ia sepertinya tidak merespons sama sekali seperti biasanya.

Ia hanya duduk tersenyum mendengarkanku sembari memegang tanganku, aku merasakan bahwa hal ini semakin aneh tapi aku dengan bodohnya malah lanjut bercerita dengan penuh semangat, hingga jam mata pelajaran dimulai sesaat guru sedang mengabsen, tetapi namanya tidak dipanggil sama sekali.

Apakah dia dikeluarkan? Aku pun mengangkat tangan dan menyebutkan bahwa namanya tidak disebut padahal dia ada di bangkunya duduk terdiam. Namun, saat aku menoleh ke teman-teman ku yang lain dan guru, mengapa mereka melihatku dengan tatapan seperti itu? Apakah mereka tidak melihat bahwa dia ada di sana duduk? Ah aku menggelengkan kepala dan beranjak kembali duduk, aku berbalik menoleh dan melihatnya masih di posisi yang sama, duduk menghadapku sembari tersenyum.

Saat jam istirahat aku bergegas berdiri dan memegang tangannya untuk mengajaknya ke kantin, seperti biasa di kantin kami membeli roti untuk dimakan sebagai camilan makan siang. Ketika aku melihat sekeliling, kantin mengapa orang-orang juga memberikanku tatapan yang aneh? Tatapan tersebut mirip seperti tatapan yang di berikan teman-teman kelasku dan guru tadi pagi.

Aku segera menggelengkan kepala lagi dan menghiraukannya, aku menggenggam tangannya dan langsung beranjak kembali ke kelas. Sepanjang perjalanan ke kelas tepatnya di koridor sekolah mereka yang aku lewati dan melewatiku juga memberikan tatapan yang sama, entah mengapa mereka semua seperti itu, apakah ada yang aneh padaku hari ini? Apakah aku salah seragam? Ataukah ada sesuatu yang baru dari diriku hari ini?

Aku segera menariknya masuk ke kelas dan kembali duduk di bangku masing-masing, aku memakan roti dengan lahap sembari bercerita lagi bersamanya layaknya tidak terjadi apapun seperti hari-hari biasa. Namun, kali ini sama saja ia masih tersenyum mendengarkan semua cerita ku, setiap kali melihat senyumannya membuatku merasa lega, sepertinya dia sedang baik-baik saja. Ia satu-satunya sahabatku, satu-satunya yang mengerti apa yang kubutuhkan ketika aku sedang sendiri, dan satu-satunya orang yang bisa kuandalkan dengan penuh serta kupercayai.

Saat suara bel berbunyi aku segera menghabiskan rotiku dan bersiap untuk pelajaran terakhir. Tapi, dia masih saja duduk sembari tersenyum menghadapku, aku tidak merasa hal tersebut aneh hanya saja orang-orang memandangi kita dengan raut wajah yang aneh seakan penuh dengan kebingungan dan kesedihan?

  • Bagikan

Exit mobile version