CERPEN HUJAN DI BULAN JULI

  • Bagikan

Hanum tersenyum miris, “Vano, hidup aku udah dipenuhi masalah, aku nggak punya siapa-siapa buat cerita, aku ditinggalkan dan dikucilkan, aku sendiri Vano. Sakit banget rasanya ketika aku pikir masih punya satu orang yang peduli, ternyata semua sama saja. Kepalaku rasanya mau pecah Van, capek sebenarnya bertahan sampe sekarang, pengen nyerah. Terus sekarang aku malah dengar kamu lagi banyak masalah, aku nggak sanggup Van kalau juga harus nampung masalah kamu.”

Kemudian Hanum berlalu begitu saja dari hadapan Vano.

“Padahal aku cuma mau didengar Num,” batin Vano.

Hanum mengempaskan tubuhnya ke kasur, ia menatap nanar langit-langit kamarnya. Hanum begitu mengasihani dirinya sendiri saat ini, sudah lama rasanya Hanum tidak merasakan bahagia, dan tiada hari tanpa air mata baginya.

Hanum ingin sekali berteriak kalau dia kesepian, dia tidak bisa sendiri, dia lelah, dia ingin bahagia seperti dulu lagi. Hanum bertanya-tanya memangnya ia salah apa hingga ia harus menjalani kehidupan sesakit ini, bertahan sendiri tanpa adanya tempat untuk bercerita.

Air mata perlahan-lahan membasahi pipi Hanum. “Ma, pa, Hanum capek, batin Hanum nggak kuat, Hanum nggak bisa sendiri, Hanum mau nyerah ma, pa,” batin Hanum.

Lagi-lagi Hanum tertidur di tengah tangisnya, ia terbangun ketika hari sudah mulai gelap, dan Hanum masih mengenakan seragam sekolahnya. Tiba-tiba ada sebuah panggilan yang masuk ke handphone Hanum, Mama. Hanum menghela napas, perasaannya seketika langsung tidak enak ketika melihat bahwa mamanya lah yang menelepon, dengan terpaksa ia mengangkatnya.

“Hanum, ngapain saja kamu di sekolah hah! Barusan guru kamu menghubungi saya kalau nilai kamu sangat anjlok beberapa semester ini. Jangan bikin saya malu, kerjaan kamu tinggal belajar saja malah nggak becus, saya nggak ada ya punya anak yang bodoh. Saya sudah capek-capek kerja di sini, terus kamu kerjaannya main terus sampe nilai kamu jelek begitu. Saya sudah fasilitasi semua buat sekolah kamu, tapi kamu malah jadi anak yang bodoh seperti ini, saya malu! Awas saja kalau nilai kamu tidak bagus di semester depan, saya akan sita handphone dan kurangi uang jajan kamu.”

Hanum bergeming, pemilik suara diseberang sana sudah mematikan telepon secara sepihak tanpa memberikan kesempatan pada Hanum untuk berbicara. Semua kata-kata yang ia dengar barusan menghujam dada Hanum begitu saja, sakit.

Hanum terdiam untuk beberapa saat, kepalanya begitu pusing. Ya, mamanya telah sukses dan sempurna dalam menghancurkan mentalnya, mamanya telah sukses menghacurkan pertahanan Hanum.

Seketika Hanum langsung berteriak sejadi-jadinya, air matanya mengalir deras, dadanya sangat sesak, ia memukul-mukul dadanya.

Aku mau mati, aku capek, aku udah nggak sanggup, aku nyerah, saat ini juga. Hanum keluar dari rumahnya dengan tatapan kosong masih dengan seragam sekolahnya. Saat ini Bandung lagi-lagi diguyur hujan, Hanum berjalan di bawah hujan. Ia menuju ke jalan raya, Hanum berdiri di pinggir jalan dengan tatapan kosongnya, hanya satu yang Hanum pikir saat ini, mati.

Tak lama, Hanum turun ke jalan raya tanpa peduli ia akan tertabrak oleh kendaraan yang melaju. Air hujan menyamarkan tangisannya, Hanum kira ia akan bisa bertahan lebih lama lagi, ternyata semuanya malah semakin menghakimi. Ketika baru berjalan dua meter dari pinggir jalan, tiba-tiba tangan Hanum di tarik paksa oleh seseorang menuju ke tepi jalan raya.

“Hanum! Kamu ngapain, kamu kenapa num?”

“Lepasin aku Van, aku mau mati, aku capek, aku udah nggak kuat.” Ternyata Vano yang tiba-tiba datang menggagalkan niat Hanum untuk mengakhiri hidupnya.

Vano kemudian mendekap Hanum dalam pelukannya, ia tidak berbicara, membiarkan Hanum menangis sejadi-jadinya. Tanpa sadar air mata Vano pun ikut mengalir karena mendengar tangisan Hanum. Kemudian, Vano membawa Hanum untuk kembali ke rumahnya.

“Num, maafin aku ya, maafin aku karena nggak bisa jadi tempat buat kamu cerita, maafin aku nggak bisa selalu ada buat kamu. Maaf Num, please jangan kayak gini lagi Num, kamu masih punya aku sahabat kamu yang tulus sayang sama kamu. Aku janji akan selalu ada buat kamu, aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi Num. Kamu boleh cerita apapun dan kapanpun sama aku Num. Please, jangan kayak gini lagi.” Vano berucap dengan sangat tulus seraya menatap Hanum yang masih saja terdiam.

Di lain sisi, Hanum merasa lega karena Vano datang di saat ia ingin mengakhiri hidupnya. Ternyata Vano tidak benar-benar pergi, dia masih sahabat Hanum. Hanum masih punya Vano. Hanum menatap Vano yang saat ini juga menatapnya.

“Makasih dan maaf ya Van. Makasih karena kamu selalu berusaha ada buat aku dan maaf karena ternyata aku yang nggak pernah ada buat kamu.”

Dari penuturan dan tatapan Vano kepadanya sekarang Hanum sadar kalau ternyata ia juga egois, ia hanya selalu ingin di dengar, tetapi tidak mau mendengar. Hanum terlalu kalut dengan masalahnya sendiri, hingga dia lupa kalau Vano pastinya juga punya masalah dan punya titik capek dalam hidupnya.

Sebenarnya Hanum takut untuk mengakhiri hidupnya, tetapi pikiran yang sudah tidak karuan dan mental yang sudah dihajar habis-habisan oleh orang tuanya membuat Hanum ingin menyerah akan hidupnya. Sebab, ia berpikir untuk apa lagi hidupnya jika selalu sendiri di bumi yang luas ini, ia kehilangan kasih sayang, kehilangan kebahagiaan, dan kehilangan tujuan hidupnya.

Kehadiran Vano dalam hidupnya menjadi satu alasan Hanum untuk bertahan saat ini, ia bersyukur masih punya satu orang yang peduli terhadap dirinya.

Hanum sadar bahwa sebenarnya Vano tidak berubah, dia hanya sedang berada di titik lelah dalam hidupnya juga, tetapi Hanum tidak mau mengerti Vano di saat itu.

Hanum memutuskan untuk tetap melanjutkan kehidupannya, ia akan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya bahagia, seperti menonton boyband Korea favoritnya. Ia akan berbagi keluh dan kesah serta bahagia bersama sahabat yang telah menyelamatkannya dari sebuah keputusan buruk dalam hidupnya.

Sisa rintik hujan malam ini menjadi saksi kembalinya Hanum. Hujan yang deras saja bisa mereda, begitu pula dengan kesedihan, sedalam apapun rasa sedih dan sakit yang dialami, jika keikhlasan sudah tertanam di hati, maka kebahagiaan akan kembali bersemi. Ikhlaskan semua yang telah pergi dan jagalah semua yang masih ada dan berarti.

Biodata Penulis:

A. Kirana Kirania

SMAN 2 Enrekang

IG @kiranakirania

  • Bagikan